SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir menjelang puncak musim hujan pada awal 2027. Sebanyak 119 unit pompa disiapkan untuk membantu mengendalikan genangan di sejumlah wilayah, dengan total kapasitas penyedotan mencapai 92.190 liter per detik.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Semarang dalam mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi, terutama banjir akibat meningkatnya intensitas hujan. Puncak musim hujan diprakirakan terjadi pada Januari hingga Februari 2027, sehingga kesiapan infrastruktur pengendali banjir mulai ditingkatkan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Suwarto, menjelaskan bahwa dari total 119 pompa yang disiapkan, sebanyak 101 unit di antaranya merupakan pompa portabel. Seluruh peralatan tersebut tersebar di wilayah Semarang bagian timur, tengah, dan barat untuk mendukung penanganan genangan di berbagai kawasan.
Menurut Suwarto, kesiapan pompa terus diperiksa agar seluruh peralatan dapat berfungsi optimal ketika dibutuhkan. Pompa-pompa tersebut juga disiapkan untuk beroperasi selama 24 jam apabila kondisi di lapangan memerlukan penanganan segera.
Ia memastikan pengecekan teknis dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi gangguan saat curah hujan tinggi. Dengan demikian, pompa dapat langsung dioperasikan untuk membantu mempercepat penyedotan air di kawasan yang mengalami genangan.
Selain menyiagakan pompa, Pemkot Semarang juga menyiapkan dukungan peralatan operasional lainnya. Tercatat sebanyak 66 unit dump truck dan 57 unit alat berat disiapkan untuk menunjang pekerjaan penanganan sungai, saluran air, serta infrastruktur pengendali banjir.
Upaya mitigasi juga dilakukan melalui pengerukan sedimentasi dan pembersihan saluran air. Sejak Maret 2026, DPU Kota Semarang telah menangani sekitar 38 hingga 41 titik sungai dan saluran besar guna memperlancar aliran air ketika curah hujan meningkat.
Sejumlah kawasan menjadi perhatian dalam pekerjaan pengerukan dan normalisasi tersebut, di antaranya Kaligawe, Tlogosari, Jalan Gajah, serta wilayah Semarang bagian tengah dan selatan. Penanganan dilakukan untuk mengurangi penumpukan sedimen yang berpotensi menghambat aliran air dan meningkatkan risiko genangan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, meminta seluruh perangkat daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan banjir maupun bencana lainnya. Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor, kecepatan respons, serta memastikan seluruh infrastruktur pengendali banjir dan peralatan darurat berada dalam kondisi siap digunakan.
Koordinasi penanganan bencana juga diperkuat bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tim Reaksi Cepat (TRC), dan unsur terkait lainnya. Selain itu, Pemkot Semarang melakukan penguatan sistem peringatan dini, pemantauan tinggi muka air, serta pemetaan wilayah yang berpotensi terdampak bencana.
Pemkot Semarang turut mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca, khususnya saat hujan dengan intensitas tinggi. Warga diminta memperhatikan kondisi lingkungan sekitar dan segera melaporkan apabila terjadi genangan, banjir, atau situasi darurat yang membutuhkan penanganan.
Masyarakat yang membutuhkan informasi kedaruratan, ingin melaporkan kejadian bencana, maupun memerlukan bantuan evakuasi dapat menghubungi layanan Call Center 112.
Melalui kesiapan pompa, peralatan operasional, normalisasi saluran, dan koordinasi lintas instansi, Pemkot Semarang berupaya memperkuat langkah antisipasi agar risiko banjir pada musim hujan 2027 dapat ditekan serta keselamatan masyarakat tetap terjaga.
