Agustina Wilujeng Walikota Semarang Perkuat Dukungan bagi Guru Agama dan Pelayan Umat di Kota Semarang

SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang terus memperkuat perhatian terhadap kesejahteraan tenaga pendidik keagamaan dan para pelayan umat. Pada 2026, Pemkot Semarang memberikan insentif atau bisyaroh kepada 9.992 guru agama dan pelayan umat sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam pendidikan, pembinaan moral, serta kehidupan sosial masyarakat.

Jumlah penerima insentif tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, penerima bisyaroh tercatat sebanyak 6.572 orang. Dengan demikian, terdapat penambahan 3.420 penerima atau meningkat sekitar 52,04 persen dalam satu tahun.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, peningkatan jumlah penerima merupakan wujud perhatian pemerintah daerah terhadap para pengabdi keagamaan yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Menurut Agustina, pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan memiliki posisi strategis dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa. Pendidikan yang diberikan tidak hanya berorientasi pada penguatan ilmu agama dan akhlak, tetapi juga perlu membekali generasi muda dengan kemampuan mengikuti perkembangan teknologi, memperluas wawasan pengetahuan, serta menghadapi berbagai tantangan zaman.

Ia berharap pesantren di Kota Semarang dapat terus berkembang menjadi pusat pembentukan generasi unggul sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat. Melalui pendidikan dan pembinaan yang berkelanjutan, pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi yang berilmu, mandiri, kreatif, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Agustina mengibaratkan pesantren sebagai sumber kehidupan yang terus memberikan manfaat bagi masyarakat. Dari lingkungan pendidikan tersebut diharapkan lahir generasi yang mampu mengamalkan ilmu, mengabdi kepada masyarakat, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Asisten II Sekretariat Daerah Kota Semarang Yudi Hardianto Wibowo menyampaikan bahwa peningkatan pemberian bisyaroh menjadi salah satu bentuk kebijakan pemerintah yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh para tenaga pendidik dan penggerak kegiatan keagamaan.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Istighosah Akbar dan Napak Tilas Sejarah Santri Kota Semarang yang berlangsung di Pondok Pesantren Salafi Luhur Dondong, Mangkang.

Dalam pelaksanaannya, program insentif tersebut menjangkau berbagai kelompok pengabdi keagamaan. Penerima di antaranya meliputi guru Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ), guru madrasah diniyah, guru Sekolah Minggu, perawat jenazah atau modin, marbot, serta petugas kemakmuran masjid.

Cakupan program juga diperluas pada 2026 dengan melibatkan tenaga pendidik keagamaan Buddha dan para pendidik yang tergabung dalam Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA). Perluasan tersebut menunjukkan upaya Pemkot Semarang untuk menjangkau lebih banyak tenaga pendidik dan pelayan umat dari berbagai latar belakang keagamaan.

Keberadaan para pengabdi tersebut dinilai memiliki kontribusi penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan keagamaan dan aktivitas sosial masyarakat. Peran mereka tidak terbatas pada kegiatan belajar mengajar, tetapi juga mencakup pembinaan karakter, pelayanan di tempat ibadah, hingga pendampingan kehidupan bermasyarakat.

Kegiatan Istighosah Akbar dan Napak Tilas Sejarah Santri Kota Semarang tahun ini mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Acara tersebut diikuti sekitar 2.700 peserta yang terdiri atas 2.600 santri dan jemaah serta 100 tamu undangan.

Sejumlah tokoh turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang KH Anasom, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta para tokoh agama.

Melalui peningkatan insentif dan perluasan penerima manfaat, Pemkot Semarang berharap para guru agama dan pelayan umat semakin mendapatkan perhatian atas pengabdian yang selama ini dilakukan. Dukungan tersebut juga diharapkan dapat memperkuat kualitas pendidikan keagamaan sekaligus menjaga kehidupan sosial masyarakat yang harmonis.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun Kota Semarang melalui penguatan sumber daya manusia, termasuk dari lingkungan pendidikan pesantren dan lembaga keagamaan. Dengan dukungan terhadap para pendidik dan penggerak keagamaan, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan dan karakter kuat, tetapi juga mampu beradaptasi serta berkontribusi menghadapi tantangan masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link