SEMARANG – Dengan tema “Dari Seribu Pintu, Semarang Berkisah”, Lawang Sewu Short Film Festival (LSSFF) 2025 resmi diluncurkan untuk menghidupkan kembali kisah sejarah dan budaya Kota Semarang melalui medium film pendek.
Festival ini berlangsung dari 23 September hingga 19 Desember 2025, menghadirkan program diskusi, workshop, kompetisi, hingga pemutaran film layar tancap.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mengatakan film adalah jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. “Melalui film, kita bisa merayakan sejarah kota sekaligus memproyeksikan masa depan budaya Semarang,” ucapnya.
Program festival dimulai dengan Lawang Talks di Balai Kota, menghadirkan diskusi publik bagi sineas dan komunitas. Agenda berlanjut dengan Mini Lab Workshop pada Oktober, tempat sineas mendalami teknik storytelling dan produksi film.
Kompetisi film pendek digelar sepanjang Oktober hingga November. Para peserta ditantang menggali ide dari sudut kota, dari Lawang Sewu hingga gang kecil Kota Lama.
Karya terpilih akan diputar dalam Semarang Film Week pada awal Desember, mengusung konsep pasar malam dengan layar tancap, menghadirkan nuansa nostalgia sekaligus ruang dialog penonton dan pembuat film.
Festival akan ditutup dengan Malam Anugerah LSFF 2025 pada 19 Desember di TBRS Semarang. Pemenang akan diumumkan sekaligus dirayakan dalam panggung hiburan dan pameran kreatif.
Kurator festival Haris Yuliyanto menyebut LSSFF adalah cara menghidupkan kisah Semarang ke dalam bahasa visual. “Film jadi ruang dialektika identitas kota,” katanya.
Dengan begitu, LSSFF bukan sekadar acara, tetapi gerakan budaya menuju Semarang sebagai Kota Sinema.
Reporter: Ismu Puruhito

