SEMARANG — Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah 2025 bakal menjadi ajang pertarungan ide antara kesinambungan dan perubahan. Dua kandidat resmi maju sebagai bakal calon ketua: Imam Nuryanto dan Setiawan Hendra Kelana.
Imam Nuryanto tampil dengan misi perubahan, transparansi, dan kesejahteraan wartawan. Sementara Setiawan mewakili kepengurusan lama yang dinilai membawa stabilitas.
Menurut Imam, PWI Jateng perlu bertransformasi agar lebih relevan dengan tantangan zaman. “Wartawan hari ini menghadapi tantangan digital, tekanan ekonomi, dan disrupsi media. PWI harus hadir dengan solusi,” tegasnya.
Ia menilai, organisasi tidak boleh hanya menjadi simbol, tetapi harus memberi manfaat nyata bagi anggotanya. “Kepemimpinan PWI harus berpihak pada wartawan, bukan pada kepentingan sempit,” katanya.
Imam punya rekam jejak panjang di PWI, termasuk pernah menjabat Wakil Bendahara dan aktif di Forum Wartawan Provinsi. Kini, ia dipercaya sebagai Korwil Bisnis Solo Raya Suara Merdeka.
Dalam visinya, Imam menekankan kesejahteraan wartawan, penguatan kapasitas organisasi, dan kerja sama lintas sektor. “Independensi tetap harga mati, tapi sinergi perlu untuk meningkatkan taraf hidup wartawan,” tambahnya.
Sementara itu, Setiawan diyakini membawa semangat melanjutkan program kepengurusan lama. Sebagai Sekretaris PWI Jateng, ia dekat dengan struktur organisasi yang sudah berjalan.
Ketua Panitia Konferprov, Achmad Zaenal Muttaqin, menuturkan, pendaftaran bacalon ditutup 30 September dan pengembalian berkas paling lambat 3 Oktober. Selanjutnya, proses verifikasi akan menentukan keabsahan kandidat.
Konferprov sendiri akan berlangsung 18 Oktober di Auditorium RRI Semarang. Ajang lima tahunan ini akan menentukan arah PWI Jateng lima tahun ke depan.
Publik pers di Jawa Tengah menantikan hasil konferensi. Apakah anggota lebih memilih kesinambungan atau perubahan yang ditawarkan Imam?
Imam optimistis, gagasan perubahan akan mendapat dukungan luas. “PWI harus lebih progresif. Kita ingin melahirkan organisasi pers yang modern, kuat, dan berpihak pada wartawan,” tuturnya.
Reporter: Ismu Puruhito

