Insentif Rp1 Juta Dorong Minat KB Pria, Peserta Vasektomi Meningkat di Semarang

SEMARANG – Program KB pria di Kota Semarang menunjukkan perkembangan pesat pada tahun 2025. Pemberian insentif Rp1 juta untuk peserta vasektomi menjadi salah satu faktor meningkatnya minat masyarakat mengikuti program tersebut.

Kepala Disdalduk KB Kota Semarang, Lilik Farida, mengatakan bahwa insentif tersebut bukan sekadar bantuan finansial, tetapi bentuk dukungan pemerintah bagi keluarga yang ingin mengatur kelahiran namun memiliki keterbatasan ekonomi.

Menurut Lilik, banyak peserta vasektomi berasal dari keluarga dengan dua anak atau lebih. Dengan insentif yang diberikan, masyarakat merasa lebih ringan dan terdorong mengikuti program KB secara sadar.

Disdalduk KB juga mengoptimalkan pelayanan jemput bola. Dalam sebulan, tim turun ke lapangan sekitar 20 kali untuk membuka layanan di berbagai kecamatan. Upaya ini mempermudah masyarakat mengakses metode KB tanpa hambatan biaya maupun jarak.

Layanan KB tidak hanya diberikan melalui MUYAN KB, tetapi juga bekerja sama dengan rumah sakit. Banyak warga kini lebih percaya melakukan tindakan vasektomi di fasilitas kesehatan yang memiliki tenaga medis spesialis.

Peningkatan peserta KB pria terlihat dari lonjakan pesertanya. Jika pada 2024 cakupan baru mencapai 46 persen, pada 2025 sudah lebih dari 100 orang yang memilih vasektomi sebagai metode kontrasepsi.

Selain vasektomi, metode kontrasepsi jangka panjang seperti IUD, implan, dan MOW juga tetap menarik minat masyarakat. Lilik menyebut bahwa permintaan metode-metode ini stabil sepanjang tahun.

Untuk peserta yang kesulitan transportasi, Disdalduk KB menyediakan layanan antar jemput. Mereka dijemput dari rumah dan diantar kembali setelah tindakan selesai.

Insentif Rp1 juta menjadi bentuk apresiasi pemerintah bagi warga yang berpartisipasi dalam KB pria. Insentif ini juga memotivasi keluarga muda untuk mempertimbangkan rencana kelahiran dengan lebih matang.

Lilik menekankan bahwa peningkatan partisipasi KB pria berdampak langsung pada kesehatan keluarga. Jarak kelahiran yang ideal dapat mencegah berbagai risiko, termasuk stunting pada anak.

Program KB di Semarang juga melihat tren positif terkait perubahan pola pikir generasi muda. Pernikahan di bawah usia 19 tahun terus menurun seiring meningkatnya kesadaran perencanaan keluarga.

Pemerintah berharap tren positif ini dapat memperkuat ketahanan keluarga di Kota Semarang. Layanan KB yang mudah diakses menjadi investasi jangka panjang untuk kualitas generasi mendatang.

Disdalduk KB berkomitmen terus memperluas akses dan meningkatkan kualitas layanan KB, termasuk melalui kerja sama lintas sektor dan penyediaan fasilitas tambahan di berbagai wilayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link