SEMARANG – Perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia di RW 4 Kelurahan Krapyak, Kota Semarang, berlangsung istimewa. Tidak hanya menghadirkan prosesi budaya Kalang Wan Ibu Petiwi, warga juga melibatkan ibu-ibu PKK dan generasi muda dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Ketua RW 4, Tri Subekso, menyebut keterlibatan perempuan menjadi bagian penting dalam acara ini. “Ibu-ibu PKK menyanyikan gending Jawa Ketawang Ibu Pertiwi dengan penuh penghayatan. Itu membuat suasana benar-benar emosional,” katanya.
Selain itu, ada 25 anak-anak yang ikut menyalakan obor serta membantu persiapan lampu tengteng. Kehadiran generasi muda dianggap penting untuk melanjutkan tradisi budaya di kampung.
“Kalau tidak dikenalkan sejak dini, mereka bisa lupa dengan tradisi sendiri. Makanya kami libatkan anak-anak agar tahu makna kemerdekaan lewat budaya,” tambah Tri.
Acara juga dihadiri perangkat kelurahan, tokoh masyarakat, dan komunitas seni. Komunitas Tridatu menampilkan musik etnis modern yang dipadukan dengan nuansa tradisional.
Puncak acara ditutup dengan pementasan kuda lumping, sebuah kesenian rakyat yang menghibur sekaligus mengajarkan nilai kebersamaan.
Tri menuturkan, kegiatan ini sekaligus menjadi langkah awal menghidupkan kembali Sanggar Trisno Budoyo yang sudah lama vakum. “Kami ingin ada ruang kreatif bagi anak-anak muda di kampung,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi budaya tidak hanya soal nostalgia, tetapi juga cara menjaga persatuan warga di tengah tantangan zaman.
Ia berharap tahun depan acara serupa bisa lebih besar, melibatkan lebih banyak RW, dan menjadi agenda budaya tahunan.
Reporter: Raffa Danish

